Perang Ketupat merupakan salah satu tradisi atau ritual yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sesuai dengan namanya, acara adat ini berlangsung dengan kondisi peserta saling melempar ketupat sebagai senjata dalam perang ketupat. Tradisi ini masih sering dilakukan sampai sekarang dan sering disebut dengan istilah ruah Tempilang. Acara ini biasa digelar setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam) di Pantai Tempilang, Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.
Selain itu, acara ini juga digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan juga digelar pada bulan ruwah atau bulan Sya`ban dalam kalender Hijriyah. Biasanya dimulai pada tanggal 15 Sya`ban atau minggu ketiga dibulan tersebut.
Menurut sejarahnya perang ketupat bermula pada tahun 1883, hal ini berarti tradisi ketupat sudah berlangsung selama 137 tahun, bertepatan dengan terjadinya letusan gunung berapi Krakatau. Perang ketupat ini pertama kali terjadi di Benteng Kota yang dilakukan oleh kepala Suku atau Dukun kampung yang bernama Dimar (akek aren). Dukun berasal dari Desa Pengamun dan mempunyai beberapa pengikut yaitu akek bey, akek lungkat, akek berubak, akek iri, dan mak miak.
2 Benteng Kota yang menjadi lokasi pertama diadakannya Perang Ketupat di percaya merupakan salah satu peninggalan bajak laut atau lanon. Akan tetapi seiring waktu arena Perang Ketupat ini berpindah ke wilayah Tempilang tepatnya di Desa Air lintang, lantaran terdapat pesisir Pantai Pasir Kuning.
Menurut sejarahnya, kampung Tempilang dihuni oleh kaum pribumi yang menetap secara berkelompok lantaran takut dijajah oleh bajak laut (lanon). Akan tetapi lantaran banyaknya penduduk yang mengosongkan tempat tinggalnya dan memilih tinggal di kebun, kampung Tempilang hanya sekedar kaum perempuan sehingga mudah diserang oleh bajak laut. Setelah mendapatkan berita bahwa kampung tempilang diserang oleh bajak laut, para lelaki yang tinggal di kebun kembali ke kampung. Para lelaki di sana merupakan para jagoan silat mereka ingin melawan para bajak laut (lanon) itu. Para pesilat itu ialah kakek Bey, kakek Lungkat, kakek Berubak, kakek Iri, dan salah satu pesilat perempuan yaitu mak Miak, sehingga membuat mereka marah kedatangan para bajak laut (lanon) yang ingin menjajah kampung Tempilang.
Para pesilat bersatu untuk melawan para bajak laut (lanon) sehingga bajak laut itu pergi dan meninggalkan kampung Tempilang. Tidak lama dari penjajahan itu, di kampung Tempilang banyak anak perempuan yang diambil dan dimakan oleh siluman buaya yang membuat keadaan sangat mencekam. Sehingga dari kejadian itu, masyarakat dan para tokoh adat ini berinisiatif membentuk suatu persatuan supaya kampung Tempilang ini menjadi kokoh untuk kehidupan masyarakat, dan melakukan ritual bersama agar terhindar dari musibah dan terbentuklah sebuah perang ketupat.
Upacara Perang Ketupat memakan waktu selama dua hari. Pada hari pertama, upacara dimulai pada malam hari dengan menampilkan beberapa tarian tradisional mengiringi sesaji untuk makhluk halus yang diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan yang dibuat dari kayu menangor.Para dukun kemudian memulai upacara.
Di dari kedua, sebelum dimulainya upacara Perang Ketupat, masyarakat Tempilang lebih dulu menyelenggarakan acara Nganggung di Masjid Jami' Tempilang. Selanjutnya, upacara Perang Ketupat dilakukan di Pantai Pasir Kuning. Upacara diawali dengan menampilkan Tari Serimbang. Pelaksanaan upacara Perang Ketupat ini dilaksanakan menjelang bulan puasa (Ramadhan).
Nilai-nilai yang ada dalam tradisi Perang Ketupat adalah nilai agama yang mencakup nilai aqidah, nilai syariah, dan nilai akhlak.Nilai budaya yang tercermin dalam beberapa hal, yakni pantangan tiga hari, menghanyutkan perahu, dukun tidak boleh mempublikasikan nama-nama makhluk halus dan nilai sosial yang mencakup gotong royong dan kebersamaan. Sedangkan fungsi dari tradisi Perang Ketupat secara garis besar adalah sebagai kebersamaan sosial dan aset pariwisata.